Halaman

Entri Populer

Rabu, 30 Mei 2012

Cegah Defisit Anggaran, Presiden Ajak Hemat Energi




"Yang bisa kita lakukan saat ini adalah meningkatkan pendapatan negara dan optimalisasi atau ketepatan pembelanjaan negara, termasuk pembelanjaan di daerah-daerah," kata Presiden.
JAKARTA, Jaringnews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan Gerakan Nasional Penghematan Energi. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak dunia, juga untuk menekan defisit anggaran negara.
"Anggaran untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2010 subsidi BBM dan listrik mencapai Rp 140 triliun, dan 2011 meningkat lagi menjadi Rp 256 triliun," kata SBY dalam pidato Gerakan Penghematan Energi Nasional di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/5).
Menurut SBY, peningkatan tersebut dikarenakan tinggihnya harga BBM dunia, serta meningkatknya penggunaan BBM dan listrik, baik oleh masyarakat, angkutan atau transportasi, maupun untuk kalangan industri.
"Ini mengakibatkan berkurangnya kemampuan pemerintah untuk membangun infrastruktur, seperti jalan, jembatan, irigasi, pelabuhan laut dan bandar udara," terang Presiden.
Lebih dari itu, lanjut SBY, hal tersebut juga berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara, karena penerimaan negara lebih kecil dari belanja negara.
"Untuk mengatasi persoalan tersebut, kita harus mengambil kebijakan yang tepat, langkah yang jelas dan terarah, serta sesuai dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat luas," sebut SBY.
SBY bilang, ada dua hal penting harus dilakukan, pertama, mencegah naiknya defisit anggaran dengan cara meningkatkan pendapatan negara dan melakukan optimalisasi termasuk penghematan anggaran belanja negara. Kedua, mengurangi subsidi BBM dan listrik melalui gerakan penghematan secara nasional.
"Sesungguhnya tidak cukup banyak opsi atau pilihan yang kita pilih dalam upaya mencegah naiknya subsidi dan upaya untuk meningkatkan pendapatan negara. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah meningkatkan pendapatan negara dan melakukan optimalisasi atau ketepatan pembelanjaan negara, termasuk pembelanjaan di daerah-daerah," jelas Presiden.
Salah satu langkah untuk meningkatkan pendapatan negara, sebut SBY adalah dapat dilakukan melalui pajak maupun bukan pajak. Untuk itu, wajib pajak harus memenuhi kewajibannya tersebut.
"Jumlah wajib pajak yang belum terjaring, serta cakupan dan kepatuhan membayar pajak mesti ditingkatkan, tanpa harus menaikkan tarif pajak. Pada saat yang sama, kita juga dapat meningkatkan pendapatan negara bukan pajak, misalnya melalui sektor usaha pertambangan, minyak dan gas bumi," terangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar